Hari ini anda pengunjung yang ke :

Jumat, 26 Juni 2009

NAsib Si Owa JaWa...TERANCAMMM.....PUnahhhhhhhh


Pulau jawa selain memiliki satwa endemic seperti Elang jawa(Spizaetus bartelsi) ternyata juga memliliki primate yang begitu cantik. Coba kita tengok kehidupan primate jawa yang disebut Owa Jawa( Hylobates moloch). Perburuan dan penangkapan untuk diperjualbelikan dan dipelihara menjadi pemicu semakin berkurangya populasi owa jawa di alam.
Secara morphologi owa jawa lebih mudah dikenali jika dibanding dengan jenis primata lainya yang ada dipulau jawa. Owa jawa adalah jenis primate yang masuk dalam keluarga kera yaitu dengan ciri-ciri mempunyai tangan yang panjang dibanding dengan kakinya.

Habitat
Owa jawa lebih menyukai dan lebih banyak mendiami hutan dataran rendah yang mempunyai tajuk pohon yang rapat, salah satunya adalah Taman Nasional Gunung Halimun Salak(TNGHS). Selain memiliki tajuk poho yang masih rapat, TNGHS merupakan hutan hujan tropis terluas di pulau jawa yang masih tersisa saat ini.

Perlindugan Hukum
Owa jawa dinyatakan sebagai binatang yang dilindungi berdasarkan Peraturan Perlindungan Binatang Liar Tahun 1931 Nomor 266, Sk No. 54/kpts/Um/1972 dan Peraturan Pemerintah No 7 tahun 1999. Dikarenakan keberadaannya yang makin menurun maka owa jawa dinyatakan sebagai Critical endangered species-IUCN(International Conservation Union of Nature)

Klasifikasi
Masuk dalam ordo Primata, Family Hylobatidae, Genus Hylobates yang artinya” Penguni pepohonoan”. Untuk aktivitas lebih banyak berada di pohon. Maka dari itu owa jawa disebut primata arboreal yang artinya tinggal di atas pohon. Sedangkan secara hierarkhis owa jawa di klasifikasikan sebagai berikut:

Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Kelas : Mamalia
Bangsa : Primata
Suku : Hylobatidae
Marga : Hylobates
Jenis : Hylobates moloch(Audebert, 1798)

Prilaku Harian
Kebiasaan owa jawa adalah dengan mengeluarkan suara(call) pada pagi hari ketika memulai aktivitasnya. Mulai aktif pada pukul 05:30 dan mencapai puncaknya antara pukul 08:30-12:00 yang digunakan untuk mencari makan dan aktivitas lainya. Aktif kembali dari pukul 14:30-17:30 sampai menemukan pohon tidur. Dalam hal pencarian pakan owa jawa bergerak bersama kelompoknya dan makan pada pohon yang sama. Owa jawa dalam kehidupanya bersifat monogamus yaitu hanya mempunyai satu pasangan semasa hidupnya. Kartono, dkk(2000) dalam penelitianya mengenai variasi aktivitas harian owa jawa di Taman Nasional Gunung Halimun menyatakan bahwa 39,1% waktu yang digunakan oleh owa jawa untuk istirahat. 30,3% makan, 24,1% bergerak dan 6,5% sosial. (wongsuro.multiply.com)

Upaya pelestarian
Tujuan utama dari upaya pelestarian owa jawa yang dilakukan adalah untuk memelihara proses ekologis da sistem kehidupan, mempertahankan keanekaragaman genetis serta pemanfaatan jenis ekosistem secara berkelanjutan. Pelestarian owa jawa dapat dilakukan dengan mengacu pada tujuan utama dengan melakukan beberapa hal:
1. Mempertahankan jenis tummbuhan yang menjadi makanan dan habitat owa yakni dengan melakukan penanaman kembali jenis-jenis tumbuhan yang menjadi sumber makanan owa tersebut.
2. Observasi secara berkelanjutan dan menyeluruh terhadap aspek kehidupan dan prilaku owa yang dapat dijadikan masukan dalam rangka penyempurnaan proses rehabilitasi/pelestariannya.
3. Kerjasama dengan organisasi nirlaba yang dalam kaitanya dengan program pelestarian satwa liar dan dengan masyarakat disekitar kawasan tersebut.

LEBAK, KOMPAS.com — Habitat owa jawa (Hylobates moloch) atau kera berbulu abu-abu di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) terancam akibat perusakan hutan oleh manusia.

Kepala Seksi Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Lebak Nurly Edlinar, Jumat (26/6), mengatakan, habitat owa jawa di TNGHS sudah mengalami degradasi sehingga mereka terancam kehilangan mata rantai makanan.

Makanan primata itu adalah dedaunan, buah-buahan, dan terkadang makan serangga sebagai tambahan protein.

Selama ini, populasi owa jawa merasa terganggu, baik dengan adanya pembukaan lahan, maupun penebangan pohon liar oleh masyarakat sekitar TNGHS.

Berdasarkan laporan, kerusakan hutan di kawasan TNGHS mencapai 24.550 hektar, di antaranya seluas 8.550 hektar dalam kondisi rusak parah dan harus dihijaukan.

"Kerusakan hutan itu tentu berdampak terhadap ekosistem habitat owa jawa," katanya.

Menurut dia, owa jawa dalam mencari makan selalu berpindah-pindah secara berkelompok menjelajah dari satu pohon ke pohon lainnya.

Secara garis besar, kelompok primata itu menggunakan empat pola lokomotor yakni bergantung, berjalan, memanjat, dan melompat.

Hewan itu sering lebih agresif dalam beraktivitas ketika siang hari saat Matahari bersinar terik dan suhu udara panas.

Mereka lebih banyak mendiami hutan dataran rendah yang mempunyai tajuk pohon yang rapat sebagai populasi habitatnya.

Oleh karena itu, untuk menyelamatkan binatang itu harus dilakukan pengayaan pohon pakan dan pohon tidur.

Pengayaan pohon pakan dan pohon tidur dilakukan di hutan sekunder yang berada dalam kawasan TNGHS dengan cara menanam jenis tumbuhan asli yang biasa digunakan owa jawa.

Owa jawa termasuk binatang primata yang dilindungi dan hanya ditemukan di Pulau Jawa bagian barat, di antaranya di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Gunung Pangrango, dan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK).

Sekarang diperkirakan populasi owa jawa terus berkurang karena kerusakan hutan dan perburuan. "Saya berharap masyarakat tidak melakukan penebangan hutan karena banyak ekosistem satwa yang dilindungi," katanya.

Senin, 04 Mei 2009

Suku Laut Tergantung Hutan Bakau



TANJUNGPINANG (BP) – Suku Laut yang biasa disebut orang sampan di Lingga sangat tergantung dengan hutan bakau. Selain menangkap ikan di laut, orang sampan menebang kayu bakau dan dijual kepada pemilik dapur arang.
Warga Kabupaten Lingga, Maharan menyebutkan, namun kini pemerintah melarang mengeksploitasi hutan bakau. Orang sampan sepertinya kehilangan lahan mencari nakah.


”Kondisi mereka memprihatinkan, karena hasil laut tidak dapat diandalkan lagi untuk keperluan hidup,” ujar Maharan yang baru mengunjungi perkampungan Suku Laut di Desa Kelumu Kecamatan Lingga, Selasa (24/3).
Di sana ada sekitar 40 Kepala Keluarga (KK) Suku Laut. Diperkirakan, mereka sudah bermukim sejak puluhan tahun lalu. Pada pemukiman itu terdapat satu unit rumah milik warga Tionghoa yang sekaligus sebagai pemilik dapur arang.
Selama ini, dapur arang milik warga Tionghoa itu tidak dapat dipisahkan dengan masyarakat Suku Laut.


Karena untuk keperluan kayu bakau sebagai bahan baku arang, tauke itu memang mengandalkan orang Suku Laut untuk menebangnya.


Kini sudah dua tahun dapur arang itu tutup, sejalan dengan kebijakan pemerintah yang melarang masyarakat menebang hutan bakau.


Hal sama dikatakan warga Kabupaten Lingga lainnya, Talib. Menurut lelaki asal Kecamatan Senayang ini, setiap ada pabrik arang memang ada rumah orang Suku Laut.


Di samping itu, Orang Sampan ini termasuk pekerja keras dan patuh dengan majikan atau tauke. Dengan karakter orang Suku Laut ini, para tauke tidak perlu menyediakan uang tunai untuk membayar upah.
Tapi cukup menyediakan bahan makanan seperti beras, gula, kopi, dan rokok.


”Sifat orang Suku Laut bekerja untuk makan. Jadi sebelum masuk hutan menebang kayu, mereka tidak perlu meminjam uang dengan tauke, tapi cukup mengambil atau berutang bahan makanan. Dua tiga hari setelah itu pergi lagi ke rumah tauke untuk mengambil bahan makanan. Utang Orang Sampan kepada tauke ini tidak pernah habis. Kini, dengan tidak dapat menebang kayu bakau, mereka sulit mengambil bahan makanan ke tauke,” kata Talib. (aji)